infokorupsi
Tajuk
Beranda > Tajuk > Hendak Dibawa Ke Mana Negeri Ini?

Senin, 27 Juni 2011

Hendak Dibawa Ke Mana Negeri Ini?

Oleh: Aris Arif Mundayat

Ironi besar dari negeri ini adalah ketika para politisi dan pengelola negara gagal melindungi rakyat dari perbudakan di luar negeri akan tetapi mampu melindungi para koruptor yang menggerogoti negeri. Ironi ini terjadi karena Indonesia adalah negeri kaya raya akan sumber alam namun mengapa terjadi perbudakan dan penghinaan terhadap tenaga kerja? Jawabnya sederhana karena sumber daya alam itu dikorupsi oleh para pengelola negara melalui berbagai kontrak kerja yang tidak menguntungkan rakyat namun lebih menguntungkan para pengelola negara itu sendiri. Ini adalah ironi dari kemerdekaan karena pengelola negara tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, namun justru sibuk memperkaya diri sendiri dengan korupsi kekayaan dan harta rakyat Indonesia. Hendak di bawa kemana negeri kita ini?

Kita dapat merasakan kemerosotan moral politik para pemimpin dan politisi negeri ini yang sepertinya tidak memiliki ketegasan dan keberpihakan kepada rakyat. Rakyat tentu saja kecewa terhadap kinerja pemerintahan pasca reformasi yang tidak jelas akan membawa kita semua ke arah mana. Rakyat merasakan bahwa tidak ada kemajuan yang berarti bagi kesejahteraan mereka, namun trilyunan rupiah justru mengalir ke kantong koruptor yang sulit sekali untuk ditindak secara hukum. Ketika rakyat mendamba harap untuk sejahtera, para pemimpin sibuk dengan upaya membangun citra masing-masing melalui media bahwa mereka telah menjadi pejabat publik yang berhasil. Padahal janji-janji yang pernah mereka ucapkan dalam kampanye pemilu terasa sia-sia di mata rakyat. Mengapa janji itu sia-sia, karena politik uang telah mengotori tangan mereka sehingga mereka lebih merasa telah membeli jabatan politik melalui politik uang di pemilihan umum dan kemudian akibatnya mereka tidak pernah menjadi pemimpin bangsa yang peduli dengan berbagai kegundahan rakyat.

Akibat dari kegundahan itu, rakyat bergerak sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing agar bertahan hidup. Mereka mengadu nasib dengan menjadi TKI di luar negeri meskipun harus mengalami perbudakan. Bangsa kita dihina dan dipancung di negeri orang tapi para pemimpin tidak peduli, padahal Australia yang sapinya di siksa di Indonesia mereka memperjuangkan nasib sapi-sapi itu agar tidak mengalami penyiksaan. Inikah Indonesia yang disebut sebagai negara yang Pancasilais para pemimpinnya? Tampaknya pengelola negara sudah tidak lagi memiliki rasa perikemanusiaan dan peri keadilan dalam mengelola negeri ini. Para pengelola negara juga bergerak sendiri-sendiri memperkaya pundi-pundi masing-masing dengan berebut proyek-proyek pembangunan. Para koruptor dilindungi karena hal itu juga merupakan upaya untuk melindungi diri sendiri. Hakim peradilan juga telah kehilangan peri keadilannya karena keadilan telah terbeli oleh para koruptor negeri ini. Inilah yang disebut dengan Jaman Edan dari sang pujangga Ronggowarsito dalam serat Kala Thida.

Ronggowarsito mengatakan bahwa ada suatu masa yang menunjukkan bahwa keadaan negara semakin merosot. Situasi tata negara telah rusak, karena sudah tak ada yang dapat dijadikan pedoman. Banyak orang yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama atau moralitas politik. Bahkan orang seperti cerdik cendekiawan pun terbawa arus Kala Tidha atau jaman yang penuh dengan keragu-raguan, dan suasana yang mencekam karena dunia penuh dengan permasalahan. Inilah kondisi yang digambarkan oleh sang pujangga, yang terasa di jaman sekarang ini, sehingga kita sebagai rakyat tidak tahu akan dibawa kemana arah dari negeri ini.

Survery LSI yang mengindikasikan citra kemerosotan pemimpin bangsa yang telah dipilih melalui pemilu merupakan gambaran dari serat Kala Thida, karena para pengelola negara dan para pengelola partai politik telah kehilangan moralitas politiknya. Mereka tidak menunjukkan kemampuan untuk memberi kesejahteraan rakyatnya, menjamin keadilan bagi rakyatnya, dan memajukan bangsanya untuk tidak dihina oleh bangsa lain dengan perbudakan. Jika ingin bangsa ini mencapai derajad kehormatan yang tinggi maka para pemimpin negeri perlu untuk memiliki moralitas politik yang bersih dan benar-benar memikirkan rakyatnya untuk sejahtera dan menikmati keadilan yang bermakna bagi kehidupan kita semua. Kita rakyat Indonesia menantikan ketegasan bahwa negeri ini akan dibawa kearah yang lebih bermartabat sehinga kita tidak dihina oleh bangsa lain sebagai bangsa yang miskin.

Dibaca 1.729 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !

Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Tajuk yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 332
Hari ini :1.415
Kemarin :12.772
Minggu kemarin:73.797
Bulan kemarin:295.929

Anda pengunjung ke 18.359.095
Sejak 01 April 2009
infokorupsi