infokorupsi
Korupsi dalam Sastra

Jumat, 24 April 2009

Mari Berkorupsi!

Oleh Adji Subela

Ketika larangan itu anjuran, saat hukuman cuma senyum kecil di bibir manis dan tatkala dosa dan neraka cuma kata-kata kempis di mimbar khotbah, maka Tengul berteriak-teriak di Bundaran di depan Hotel Indonesia, di bawah lambaian Patung Selamat Datang, melambai orang-orang lewat untuk menggalakkan hidup berkorupsi.

Sewaktu seorang sahabatnya menyebutnya gila dan bisa dituntut karena menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum, Tengul cuma nyengir menangkis: "Siapa sih manusia yang paling bersih di negeri kita? Hayo?"

Belakangan ini gejolak batin Tengul memang tak terkira-kira besarnya. Sering ia merasa eneg hendak muntah mendengar tuntutan setiap detik setiap hari agar korupsi diberantas hingga ke akar-akarnya. Berpuluh-puluh organisasi antikorupsi didirikan orang, dan diberi nama gagah-gagah dengan tujuan luhur dunia akhirat: memberantas korupsi dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, selalu memikirkan dan berpihak kepada wong cilik!

"Siapa yang menjamin sih, kalau korupsi lantas berkurang? Siapa yang berani bertanggung jawab kalau organisasi-organisasi itu nanti tidak korup sendiri?" ia tetap bertahan pada prinsipnya.

***

Di depan teman-temannya ia selalu serius berpidato bahwa di zaman Orde Lama, pemerintah tak menyuapi rakyatnya pakai makanan, tapi menyekokinya dengan Tujuh Bahan Indoktrinasi alias Tubapi. Rakyat tetap tak berubah, masih saja kelaparan sambil mendengarkan pidato-pidato. Di zaman Orde Baru, rakyat makan setengah kenyang, sambil melihat pejabat-pejabat dan keluarganya berkorupsi sembari dicekoki Penataran P4, dengan lauk harian berupa peringatan-peringatan, ancaman dan intimidasi. Korupsi menjadi-jadi gilanya, dan orang malah bangga menjadi koruptor, lalu korupsi telah menjadi penghasilan sampingan yang lebih utama. Hasilnya dipamerkan ke mana-mana.

Zaman reformasi ini, Tengul menamainya sebagai Orde Bingung, orang seperti kethek ditulup*. Kebobrokan peninggalan Orde Baru terlalu banyak, sulit dituntasi seketika. Penguasa seperti tak ada, lantaran mereka sendiri bingung mana yang benar dan mana yang salah. Tengul melihat, yang banyak cumalah kebingungan dan keluhan, tuntutan, teriak-teriak tak menentu, kritikan konstruktif maupun yang ngawur asal bunyi, dan juga muncul komentar-komentar bodoh sementara korupsi malah disebutnya tidak marak sama sekali!

"Ah, bohooong," seorang temannya tak percaya.

"Sungguh! Tidak marak! Tapi korupsi sudah jadi way of life masing-masing individu warga negara dan sudah meresap dalam darah dagingnya dan jadi acuan-tindak untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tinggal menunggu adanya pejabat yang berkata – darah daging saya koruptor, itu saja."

Korupsi telah jadi bukan persoalan, dan yang berteriak-teriak antikorupsi bagi Tengul cuma orang yang kurang pekerjaan saja.

Resep yang paling baik, adalah menganjurkan setiap orang untuk berkorupsi sedapat-dapat dan semampu-mampunya. Malahan diharuskan. Tengul tetap percaya bahwa kalau semakin dilarang, orang Indonesia akan diam-diam mengerjakannya. Sedangkan kalau dianjurkan, malah tidak dikerjakan!

Dalam sebuah diskusi kecil di ruangan mewah hotel berbintang lima, Tengul meyakinkan para peserta bahwa anjuran berkorupsi harus dituangkan dalam seperangkat aturan yang memungkinkan pembinaan dan pelaksanaannya berjalan baik.

Gerakan meningkatkan kegiatan korupsi ini bagi pria ceking tersebut begitu serius sehingga ia ngotot agar Dewan Perwakilan Rakyat harus dilibatkan secara aktif. Semua komponen masyarakat yang mendukung maupun yang kontra korupsi harus diundang untuk merumuskan pelaksanaannya.

"Bagaimana kalau kelompok antikorupsi di luar maupun di dalam parlemen gigih menentang rencana gila kamu itu?" kata Sodrun, yang dalam hatinya sebenarnya setuju saja.

"Bagi kita mudah, kita bikin saja pemungutan suara secara tertutup, alias rahasia. Aku kira hasilnya akan positif. Sebelumnya, kaum antikorupsi kita lobby dulu, lalu kita ajak studi banding ke luar negeri," ini jalan keluar si Tengul.

"Lha LSM-LSM yang antikorupsi bagaimana? Apa mereka tidak teriak-teriak?" sambar Sodrun lagi.

Tengul yakin itu perkara mudah saja. Solusinya? Beri mereka Proyek Penelitian Pelaksanaan Korupsi dari Pusat Hingga Daerah, Antara Fakta dan Harapan. Beri kebebasan mereka untuk menyampaikan hasilnya. "Berapa saja besarnya rencana biaya yang diajukannya kita lipatkan tiga saja, karena program ini penting untuk kelangsungan hidup bangsa di masa mendatang. Mereka tentulah senang," enteng betul si Tengul itu menjawabnya.

"Bung, apa sampeyan** pikir MPR akan setuju?" Drs Ir Sastro Kenthir MPA, MM, MBA, Phd mengujinya.

"Ya inilah masalahnya. Tapi semua anggota DPR `kan merangkap jadi anggota MPR juga? Mudah-mudahan bisa diatur. Teknis di lapangannya, nanti kita adakan demonstrasi alias unjuk rasa mendukung korupsi secara mantap dan berkelanjutan. Orang-orang untuk itu sudah siap tinggal call saja. Ini semacam pressure saja, biasalah."

Tengul berencana melibatkan para artis-selebritis, karena hanya merekalah kini yang dipercaya orang. Yudikatif tidak sama sekali, eksekutif telah bolong, dan legislatif dianggapnya lebih serakah. Akan dibikinnya promosi besar-besaran, karena orang Indonesia paling gampang termakan iklan. Apa yang dikatakan iklan ditelan bulat-bulat tanpa dilihat.

Pria ceking itu menyambung lagi: "Pendeknya, kehidupan berkorupsi sudah meresap hingga ke sel-sel otak dan hati kita semua. Tinggal direalisasikan atau kita lembagakan saja secara terbuka, daripada sembunyi-sembunyi dan malu-malu kucing, wong ini sudah bukan barang aneh dan menjijikkan kok. Saya yakin gerakan ini akan didukung banyak orang secara diam-diam. Kalau pun ada yang menentang, itu karena mereka belum mendapatkan pencerahan dan penjelasan yang komprehensif, atau ragu-ragu apakah mereka bisa memanfaatkan gerakan ini apa tidak. Itu bisa diatur kok, tenang saja."

Pria ceking tokoh kita ini meyakinkan mereka, bahwa kebocoran APBN rata-rata 30% karena berbagai sebab – tentu di antaranya korupsi – itu prestasi manajemen yang canggih, yaitu bagaimana mengatur-atur agar copetan mereka tak ketahuan. Ini memerlukan skill tinggi.

"Bung Tengul, apakah Anda tidak takut dicap antirevolusi, antipembangunan, ekstrem kiri-kanan, tengah, depan, belakang dan apakah Anda bisa menangkis tuduhan unsur keterpengaruhan. Nanti Anda akan ditanya teman dekat Anda itu siapa saja dan apa organisasinya," Sastro mengingatkannya dengan serius.

"Mudah. Unsur keterpengaruhannya banyak. Kita tanya para pemeriksa kita, para jaksa, hakim serta pengacara: Siapa yang tidak pernah berkorupsi? Hayo ngacung!*** Siapa yang pernah berkorupsi? Ngacung!"

"Kalau mereka mengaku berkorupsi?" tanya Sastro.

"Itu calon anggota kita!"

"Kalau mereka mengaku tidak berkorupsi?"

"Itu juga calon anggota kita, maksudnya anggota tingkat percobaan."

"Kalau tidak mengacung untuk kedua-dua hal itu?" kejar si Sastro.

"Itu anggota utama kita, karena untuk berpendapat saja mereka mengorupsi dirinya sendiri, hingga ia pantas mendapat kedudukan istimewa di kelompok kita."

Semangat Tengul untuk menggalakkan korupsi betul-betul nekat luar biasa. Organisasi itu segera akan dibentuknya, dengan nama sementara: Komite Penggalakan Korupsi. Malahan dengan bantuan seorang pengarang lagu yang namanya minta dirahasiakan betul-betul (bahkan kabarnya dengan perjanjian di atas kertas bersegel), ia menyiptakan lagu Mars Mari Berkorupsi. Seperti ini:

Marilah kita berkorupsi

Korupsi sampai mati

Hukuman jangan peduli

Itu soal nanti

Soal syairnya, Tengul menyilakan semua orang untuk mengutak-atiknya kembali, tanpa memberi royalti hak cipta padanya, karena semangatnya memang untuk berkorupsi. "Yang penting intinya berupa ajakan untuk berkorupsi, itu saja, simpel kok," begitu Tengul meyakinkan teman-temannya. Sodrun malahan menyumbang satu hymne korupsi:

Korupsi, korupsi, sungguh nikmat sekali

Marilah bangsaku kita berkorupsi, enak sekali

Jangan cuma sekali saudaraku, tapi berkali-kali

Sampai mati, sampai mati

Sodrun, yang tampaknya sudah jadi pendukung fanatik Tengul, menganjurkan agar untuk mengiringi lagu itu dicomot saja dari hymne-hymne yang ada – yang indah-indah bukan main – tanpa perlu minta izin pada pemilik hak ciptanya karena memang namanya juga korupsi.

Usaha gigih Tengul dan wakilnya, Sodrun, tampaknya mendapat hasil juga. Beberapa orang mendaftarkan diri menjadi anggota. Sampai suatu ketika, Tengul mendesak diadakannya deklarasi pembentukan Komite Penggalakan Korupsi.

"Ini masalah urgen sehingga harus cepat-cepat kita realisasikan," ujarnya dengan penuh semangat.

Ada kira-kira tiga puluh orang calon peserta, terdiri dari lima belas pria dan lima belas perempuan. Barangkali itu artinya korupsi tidak memandang jender. Semua jenis kelamin punya potensi sama untuk berkorupsi, tidak pilih-pilih. Kelihatannya asal ada peluang sikat saja, beres.

Tengul dengan serius minta calon peserta agar pada saat deklarasi Komite Penggalakan Korupsi nanti di sebuah hotel berbintang lima, mereka mengenakan pakaian olahraga saja, dengan sepatu kets. Maksudnya, begitu selesai acara, mereka disuruh lari kencang-kencang meninggalkan tempat itu karena biaya sewa ruangan tidak akan dibayar. Sebab, begitu Tengul menjelaskan kepada peserta, membayar biaya ruangan itu tidak berspirit korupsi sama sekali.

******

Tiba pada hari deklarasi penting itu, calon anggota yang datang hanya sepuluh orang, masing-masing lima orang pria dan lima lainnya perempuan. Itu saja.

Banyak sekali wartawan yang datang, baik dari media cetak maupun elektronik, termasuk cyber-journalists yang dari dotkom-dotkom. Di acara itu, Komite Penggalakan Korupsi mengenalkan bendera serta simbul mereka, yaitu berupa gambar dua jari mengacung membentuk huruf V seperti gayanya PM Inggris Winston Churchill dahulu itu. Cuma gambar tangan ini dipasang terbalik dan digambarkan menjepit selembar uang kertas. Simbul itu juga menjadi gambar bendera Komite, yang warnanya putih bersih sebagai lambang kebersihan niat mereka. Semula Sodrun mengusulkan agar benderanya berwarna hitam dan ada gambar tengkorak yang ditutup matanya sebelah, tapi semua anggota menolak mentah-mentah karena itu identik dengan perompak. Kalau perompak, itu korupsi cara barbar. Black collar corruption. Komite ini hanya menampung yang white dan yang blue collar saja.

Belum lagi acaranya dimulai, Tengul sudah dicegat para wartawan dan diguyuri pertanyaan aneh-aneh. Maka berkatalah Tengul, sang penggagas Komite Penggalakan Korupsi itu:

"Saudara-saudara, para pengamat asing menempatkan negeri kita sebagai negeri yang paling korup nomer sekian. Itu jangan dianggap memalukan, tapi harus disikapi sebagai potensi yang harus disyukuri dan dianggap sebagai peluang. Tak banyak negara yang mampu mengembangkan korupsi begitu hebat hingga semakin canggih seperti negeri kita. Oleh sebab itu saudara-saudara, kita akan menjadikan korupsi sebagai ekspor andalan kita. Ekspor andalan saudara-saudara... uhuk-uhuk-uhuk...," teriak Tengul kemudian terhenti karena terbatuk-batuk. Seorang asistennya datang memberinya air putih segelas.

"...… kemudian kita buka konsultasi mengenai teknik-teknik berkorupsi dan kita masyarakatkan ke dalam dan ke luar negeri. Nantinya akan ada semacam buku Panduan Dasar untuk Berkorupsi. Untuk tahap pertama kita minta pengakuan agar korupsi merupakan keterampilan dasar yang perlu dikembangkan. Bila seluruh komponen bangsa lebih serius lagi, korupsi mudah-mudahan menjadi ilmu terapan yang memiliki metode dan sistematikanya sendiri. Itu sudah di depan mata kita semua, cuma ya itulah tadi, belum ada pengakuan terbuka. Yang jelas, kegiatan korupsi sekarang ini sudah membentuk satu siklus ekonominya sendiri sehingga cita-cita kita tadi tidak muluk-muluk. Kita harus tetap yakin mengenai hal itu, janganlah ragu sedikit pun."

Disebutkannya, investor asing enggan masuk ke Indonesia karena korupsi itu. Tapi Tengul dengan berapi-api membela bahwa ekonomi kita berputar antara lain dibiayai pakai uang hasil korupsian itu, yang beredar diam-diam dan meningkatkan daya beli rakyat!

"Dulu, sebelum kedatangan tenaga kerja dari negeri kita, polisi-polisi Malaysia sangat berdisiplin tinggi. Kini setelah bergaul dengan orang Indonesia, mereka mulai tahu apa namanya korupsi itu," Tengul nekat menjelaskan.

"Pak, peneliti asing menilai Indonesia harus dihindari untuk investasi karena sangat korup, biaya silumannya banyak, premannya tak terkira-kira. Bukankah penggalakan korupsi nanti justru akan mencegah investasi asing masuk ke sini?" seorang wartawan mengetes keteguhan Tengul.

"Begini, Bung. Investor asing itu hipokrit, munafik. Ketika pemodal asing berjejal-jejal masuk ke negeri kita di masa awal Orde Baru dulu, mereka itu main sogok sana sogok sini, tahu enggak? Jadi kita diajari teknik dagang yang seperti itu. Sekarang ketika kemampuan kita meningkat pesat, mereka justru menuding kita negeri korup. Apa itu adil?"

"Bagaimana dengan daya saing produk kita, karena cost-nya jelas akan lebih tinggi?" serbu wartawan lainnya.

"Begini kawan, pengusaha luar itu juga licik-licik. Praktik suap dan korupsi juga mereka lakukan, tapi mereka lantas menimbang-nimbang negeri mana yang korupsinya lebih kecil itu yang dicari. Mau cari yang bersih? Imposibeeeeelll....imposibeeeeeelll."

"Lantas apa sih upaya Komite Anda untuk itu?" lanjut si wartawan.

"Kita akan menuntut suatu konvensi internasional mengenai korupsi. Kita tentukan berapa uang siluman yang pantas, dan masukkan semuanya dalam biaya produksi. Maka dari itu, kami akan mengadakan pendekatan kepada negara-negara yang dinyatakan bersih untuk mengadopsi korupsi. Jadi kita globalkan korupsi ini, yang penting jelas aturan mainnya hingga semuanya berjalan fair. Kira-kira seperti itu idenya."

"Untuk tingkat regional," lanjut si Tengul, "kita dekati negara-negara tetangga kita. Ada lho, negara tetangga yang dinyatakan bersih korupsi, tapi mereka mampu menyimpan koruptor di sana asal bawa uang. Itu korupsi supercanggih namanya dan sudah berskala global-regional."

"Pak, bukankah menganjurkan orang lain untuk melanggar hukum itu juga bisa dituntut?" kejar seorang jurnalis lainnya.

"Tidak masalah kok dik, kalau pun kita di bui karena penyebaran ide yang sebenarnya sudah kita jiwai dan kita praktikkan ramai-ramai, apa boleh buat. Departemen Kehakiman dan HAM sudah memperbaiki rutan Cipinang begitu bagus, dan kabarnya rutan-rutan lainnya di seluruh negeri akan segera menyusul berturut-turut. Itu bagus, langkah antisipasif yang jitu namanya."

******

Upaya tulus si Tengul dan kawan-kawannya tentu saja mendapatkan reaksi keras dari sana-sini. Itu sudah bukan hal aneh baginya, sudah diperhitungkan masak-masak. Suatu kali rumahnya didatangi oleh segerombolan orang berbadan tegap-tegap dan berambut cepak, lain hari datang pula beberapa pria berambut gondrong. Juga ada sejumlah pria berdasi dan bermobil mewah datang padanya. Tak ketinggalan sejumlah pria bermartabat yang mengenakan hem safari datang diam-diam mengendarai sedan hitam-hitam dengan tiang bendera kecil di bagian bemper depan. Apa urusan mereka itu semua dengan Tengul, tidak ada yang tahu-menahu....…

Perkembangan selanjutnya, lama tak terdengar berita mengenai Komite Penggalakan Korupsi ini. Tapi belum lagi seminggu yang lalu, ada berita mengenai ditemukannya sesosok mayat di tepi Kali Ciliwung. Mayat seorang pria ceking. Jenasah itu telah diotopsi, hasilnya menyebutkan bahwa si pria tewas dicekik. Berdasarkan KTP yang ada di dompetnya, ia diketahui bernama Prof Dr Drs Ir Tengul SH, MM, MBA. Mayatnya diserahkan kepada keluarganya. Sayang sekali keluarganya tidak mau menerima hasil otopsi itu lalu minta diotopsi ulang di kampung halamannya. Hasilnya, Tengul tewas karena obat terlarang. Tapi dokter tak mampu menyebutkan obat apa yang telah dipakainya, karena setibanya di tempat kelahirannya, wajah si mayat telah berubah menjadi tersenyum seperti orang yang sedang lega hatinya, atau barangkali lebih mirip seperti orang yang kegelian digelitiki pinggangnya.***

Keterangan:

*Kethek ditulup = monyet disumpit. Ungkapan dalam Bahasa Jawa guna menggambarkan orang yang sedang mengalami kebingungan.

**Sampeyan = Anda

(3) Ngacung = mengangkat tangan, terutama untuk pemungutan suara.

Dimuat di Sinar Harapan 12/21/2003

Sumber: sriti.com


Dibaca 526 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !

Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Korupsi dalam sastra yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 359
Hari ini :1.390
Kemarin :9.128
Minggu kemarin:78.292
Bulan kemarin:353.178

Anda pengunjung ke 16.582.380
Sejak 01 April 2009
infokorupsi