infokorupsi
Berita Korupsi se-Indonesia
Beranda > Jawa Timur > Provinsi Jawa Timur > Kasus Korupsi Dana P2SEM: Terdakwa Anggota DPRD Jatim Diadili

Kamis, 6 Januari 2011

Kasus Korupsi Dana P2SEM: Terdakwa Anggota DPRD Jatim Diadili

Surabaya - Praktik korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) tanpa tedeng aling-aling benar-benar dipraktikkan anggota DPRD Jatim, Basuki Babussalam. Istri dan adik iparnya, Ratna Eni Sulistyo dan Ratno Edi Sulistyowidi, menjadi terdakwa kasus korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang disalur ke Lembaga Pemberdayaan Potensi Masyarakat (LPPM) Adi Luhung. Rabu (5/1) kemarin, keduanya mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Diadili dalam berkas dan ruang terpisah, Ratna dan Ratno didakwa telah menyelewengkan dana P2SEM senilai Rp 225 juta. Berdasarkan dakwaan tim jaksa penuntut umum, Ratna dan Ratno diduga mengorupsi dana P2SEM yang diterima dari Bapemas melalui LPPM Adi Luhung. Dari dana P2SEM Rp 225 juta yang diterima, yang dipergunakan hanya Rp 7,6 juta. Sedangkan Rp 217,3 juta diduga masuk kantong pribadi para terdakwa. “Kedua terdakwa telah memperkaya diri sendiri,” ujar Khristiya Lutfiansandhi, salah satu penuntut umum, kemarin.

Perlu diketahui, dalam perkara ini ada tiga terdakwa. Satu terdakwa, Sutejo yang diduga berperan sebagai makelar, juga diadili terpisah. Kasus ini berawal dari pembicaraan Sutejo yang juga berprofesi sebagai wartawan dengan Basuki Babussalam yang anggota Komisi C DPRD Jatim. Kepada Basuki, Sutejo mengatakan dana P2SEM bisa diperoleh dengan mengajukan proposal yang harus direkomendasi dewan dan ada lembaga penerima.

Tahu itu, Basuki pun meminta Sutejo membuat lembaga yang kemudian diberi nama LPPM Adi Luhung yang dibentuk tanggal 1 Agustus 2008 itu. Dalam susunan kepengurusan lembaga itu, Ratna duduk sebagai bendahara, sedangkan adik ipar Basuki (adik Ratna), Ratno Edi menjadi sekretaris.

Singkatnya, setelah mendapat rekomendasi Basuki sebagai anggota dewan, proposal itu lolos dan dana P2SEM pun cair. Menurut penuntut umum, dalam proposalnya, lembaga yang berkantor di Jl Dupak Pasar Baru mengusulkan 3 pelatihan dan masing-masing butuh dana Rp 75 juta. Pelatihan itu antara lain pelatihan makanan olahan di Blitar; pelatihan ternak ikan hias di Tulungagung, dan pelatihan pembuatan pupuk organik di Kediri. “Dalam proposal dirinci biaya dan tempat pelatihan maupun peserta pelatihan. Totalnya Rp 225 juta yang dicairkan oleh terdakwa (Ratna, red),” papar Masnur, jaksa penuntut umum lainnya.

Namun dalam penyelidikannya, jaksa menemukan sejumlah bukti-bukti penyelewengan. Pelatihan tersebut sebagian besar fiktif. Pelatihan makanan olahan di Blitar, setelah diselidiki ternyata tidak pernah dilaksanakan. Terdakwa justru diduga memalsu pertanggungjawaban dan bukti pembayaran dari Hotel Gita Puri, seolah-seolah kegiatan dilakukan di sana. “Seolah-olah ada kegiatan yang menelan dana Rp 75 juta,” ujar Masnur.

Begitu pula pelatihan ternak ikan hias di Tulungagung. Terdakwa Ratna, Ratno, dan Sutejo memalsu bukti pembayaran dari Hotel Pantai Indah Popoh. “Seolah kegiatan dilakukan di hotel tersebut dan seolah memakan biaya Rp 75 juta, padahal semuanya tidak benar,” ujar jaksa Kejaksaan Negeri Tanjung Perak itu.

Satu-satunya pelatihan yang memang benar dilaksanakan adalah pembuatan pupuk organik di Hotel Surya, Kediri. Tapi ini pun ternyata juga berbalut kebohongan. Para terdakwa diduga membuat tanda bukti pembayaran palsu yang menjelaskan kalau di hotel itu pernah diadakan pelatihan. “Dalam kuitansi tertanda nama salah satu karyawan hotel bernama Lia, namun setelah dicek tidak ada yang namanya Lia,” kata Masnur.

Tak hanya itu, dalam laporan pertanggungjawaban, terlampir tanda bukti pembayaran 52 kamar Hotel Surya Kediri. “Lha hotelnya saja lo hanya punya 40 kamar, kan kelihatan bohongnya,” tambahnya.

Hebatnya, kedua terdakwa dan Sutejo tidak ditahan karena ada jaminan dari Basuki Babussalam. Padahal dalam perkara ini, kerugian negara sebesar Rp 217 juta belum dikembalikan. Terkait belum dikembalikannya kerugian negara ini, Basuki Babussalam selaku suami Ratna dan kakak ipar Ratno belum bisa dimintai tanggapannya. Nomor telepon miliknya yang dihubungi tadi pagi hanya terdengar nada sibuk alias sedang digunakan. faz

Sumber Berita: Surabayapost, Kamis, 6 Januari 2011

Sumber Foto: wakoranews.co.cc

Dibaca 964 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !




Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Berita yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 924
Hari ini :8.839
Kemarin :7.335
Minggu kemarin:55.962
Bulan kemarin:257.806

Anda pengunjung ke 17.765.321
Sejak 01 April 2009

Subscribe

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terbaru dari infokorupsi.com :

Delivered by FeedBurner

Atau klik feed tool berikut :

Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

Add to netvibes
Add to My AOL Subscribe in Rojo

Statistik pembaca via feed :

infokorupsi