infokorupsi
Berita Korupsi se-Indonesia
Beranda > Gorontalo > Kabupaten Gorontalo Utara > Kasus Korupsi Pengadaan Pupuk: Ditahan, Mantan Kadistan Gorut Shock

Rabu, 10 November 2010

Kasus Korupsi Pengadaan Pupuk: Ditahan, Mantan Kadistan Gorut Shock

Gorontalo - Mantan Kepala Dinas Pertanian Gorontalo Utara (Kadistan Gorut) MM alias Molly kini harus melewati hari-harinya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gorontalo. Sejak kemarin (8/11), Molly resmi berstatus sebagai tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Limboto. Penahanan tersebut dilakukan Kejari Limboto paska penetapan Molly sebagai tersangka kasus dugaan penyimpangan pengadaan pupuk APBD Gorut 2009 senilai Rp 1,1 miliar.

Selain Molly Kejari juga ikut menahan oknum rekanan HK alias Hamid. Ia juga turut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyimpangan pengadaan pupuk tersebut.

Penahanan Molly dan Hamid dilakukan secara bersamaan pada pukul 17.30 Wita. Di mana sebelum penahanan keduanya terlebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh penyidik Kejari Limboto. Keduanya diperiksa secara terpisah. Pemeriksaan Molly berlangsung di ruang Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Limboto Dadang M Djafar. Saat menjalani pemeriksaan Molly didampingi penasehat hukum Salahudin Pakaya, SH. Sementara pemeriksaan Hamid berlangsung di ruang Kasubsi penyidikan dan penuntutan Kejari Limboto.

Selama menjalani pemeriksaan dimulai pukul 14.30 Wita itu Molly dan Hamid masing-masing dicecar delapan pertanyaan. Yakni berkaitan dengan peran masing-masing dalam kasus dugaan penyimpangan pengadaan pupuk tersebut. Setelah menjalani pemeriksaan kurang lebih 3 jam, sekitar pukul 17.30 Wita, Molly dan Hamid langsung digiring petugas Kejari Limboto menuju Lapas Gorontalo.

Molly yang menggunakan setelan baju Muslimah warnah coklat belang-belang dan Hamid dengan kemeja warna putih itu digiring beberapa petugas Kejari Limboto ke sebuah mobil tahanan bernomor polisi DM 7010 B. Saat akan dibawa ke Lapas Gorontalo Molly masih sempat memberi komentar bahwa dirinnya tidak bersalah dalam kasus pengadaan pupuk yang telah merugikan negara senilai lebih dari Rp 580 juta itu. “Sesungguhnya saya tidak bersalah dalam kasus pengadaan pupuk ini. Namun demikian saya tetap menghargai proses hukum yang dijalankan pihak kejaksaan. Semua nanti kita buktikan dipengadilan siapa yang bersalah dan tidak,” ujar Molly singkat sembari naik ke mobil tahanan.

Sementara Hamid ketika dimintai keterangannya diam seribu bahasa tanpa mengeluarkan satu patah kata pun sembari buru-buru menghindari kejaran wartawan. Namun kondisi Molly sangat berbeda sesaat setibanya di Lapas Gorontalo. Saat akan memasuki pintu depan Lapas Gorontalo, Molly menitikkan air mata. Bahkan dua orang teman sekerja ketika bertugas di Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo sempat memeluk Molly dan menitikkan air mata. Tak lama berselang Molly pun dibawa masuk ke dalam Lapas oleh petugas Kejari Limboto.

Saat di dalam ruangan Lapas Gorontalo Molly mendadak lemas dan sempat terduduk di lantai. Molly kelihatan cukup shock saat berada di dalam ruangan Lapas. Kondisi itu membuat beberapa anggota keluarga yang menemani ke dalam Lapas Gorontalo harus memapah tubuh Molly dan didudukkan pada sebuah kursi. Anggota keluarga itu pun berusaha memberikan suport moril kepada Molly.

Kepala Kejaksaan Negeri Limboto Muhaji SH MH mengatakan, Molly ditahan dalam kapasitas sebagai mantan Kadis Pertanian Kabupaten Gorut yang juga selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengadaan pupuk senilai Rp 1,1 miliar tersebut. “Ya, bagaimanapun juga ibu Molly harus bertanggungjawab karena dalam kasus itu ada indikasi bahwa ibu Molly saat pengadaan pupuk sudah lebih dulu mencairkan anggarannya yakni 100 persen. Padahal proses pengadaannya saja belum selesai 100 persen,” kata Muhaji SH.

Lebih lanjut Muhaji menambahkan, peran Hamid dalam kasus itu adalah selaku penyedia barang dan jasa berupa pupuk. Dimana, pupuk tersebut sediannya akan disalurkan ke tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Gorut yakni Kecamatan Kwandang, Kecamatan Anggrek dan Kecamatan Atinggola. Namun, proses pengadaan pupuknya tidak terealisasi hingga 100 persen. Akibat perbuatan kedua tersangka, negara akhirnya dirugikan sekitar lebih dari Rp 580 Juta. Perhitungan kerugian negara itu diakui Muhaji sudah berdasarkan hasil audit investigasi BPKP Manado.

Selain dua tersangka Molly dan Hamid yang sudah ditahan itu. Masih ada dua tersangka lain yang menurut Muhaji akan menyusul yakni RL alias Rohana selaku Pejabat Penanggunjawab Tehknis Kegiatan (PPTK) dan TB alias Taib selaku Direktur CV Sungai Bulia. “Untuk dua tersangka yakni Rohana dan Taib kita sudah panggil. Karena alasan sakit, rencananya besok (hari ini,red) mereka akan datang. Agar tidak ada kesan tebang pilih. Maka untuk Rohana dan Taib ini kita akan perlakukan sama dengan dua tersangka sebelumnya yang sudah ditahan yakni Molly dah Hamid. Alasan penahanan sendiri tak lain untuk mempercepat proses penyidikan perkara,” tandas mantan pengkaji di Kejati Jatim ini.

Ia menambahkan, bahwa dalam kasus itu para tersangka dijerat Pasal 2 dan 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. (roy)

Sumber Berita: Gorontalopost, Selasa, 9 November 2010

Dibaca 1.118 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !




Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Berita yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 883
Hari ini :4.437
Kemarin :14.074
Minggu kemarin:90.623
Bulan kemarin:359.009

Anda pengunjung ke 18.766.365
Sejak 01 April 2009

Subscribe

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terbaru dari infokorupsi.com :

Delivered by FeedBurner

Atau klik feed tool berikut :

Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

Add to netvibes
Add to My AOL Subscribe in Rojo

Statistik pembaca via feed :

infokorupsi