infokorupsi
Berita Korupsi se-Indonesia
Beranda > Riau > Kabupaten Indragiri Hulu > Korupsi APBD Indragiri Hulu: Enam Mantan Pejabat Ditahan

Rabu, 2 Juni 2010

Korupsi APBD Indragiri Hulu: Enam Mantan Pejabat Ditahan

BERSALAMAN: Salah seorang tersangka korupsi APBD Inhu Sunardi Ibrahim bersalaman dengan penyidik Kejati Riau saat akan ditahan, Senin (31/5/2010). (mirshal/riau pos)

BERSALAMAN: Salah seorang tersangka korupsi APBD Inhu Sunardi Ibrahim bersalaman dengan penyidik Kejati Riau saat akan ditahan, Senin (31/5/2010). (mirshal/riau pos)

Riau - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau kembali melakukan penahanan terhadap enam orang tersangka dugaan korupsi APBD Inhu lainnya, Senin (31/5). Penahanan ini yang ketigakalinya dilakukan Kejati Riau sepanjang tahun 2010.

Keenam tersangka yang ditahan itu adalah Muliadi Hjr (mantan Wakil Ketua DPRD Inhu), Alfian Jaharan (mantan anggota DPRD), Sunardi Ibrahim (mantan anggota DPRD), Puja Kaul Amal, Khaidirianto, dan Raja Junaidi merupakan mantan Bendahara Sekretariat DPRD (Setwan) Inhu.

Sebelumnya telah ditahan juga Raja Marwan (mantan Kabag Keuangan), Encik Afrizal (mantan pemegang kas daerah) dan Zaharman (mantan Sekwan). Di waktu yang lain mantan Bendahara Sekwan, Wurlinus SE juga sudah ditahan.

Pantauan Riau Pos di Kejati Riau, para tersangka mulai menjalani pemeriksaan pukul 09.00 WIB di Gedung Pidana Khusus (Pidsus). Alfian Jaharan yang sempat mangkir hingga panggilan ketiga itu terlihat datang dengan memakai baju kemeja lengan pendek bermotif kotak-kotak. Para tersangka menjalani pemeriksaan terpisah hingga pukul 18.00 WIB. Muliadi diperiksa oleh jaksa penyidik S Waruwu SH, Alfian Jaharan diperiksa Jaksa Penyidik Andri Ridwan SH, Sunardi Ibrahim dan Fuja Kaul Akmal diperiksa jaksa penyidik Ermiwati SH. Sedangkan Khaidirianto dan Raja Junaidi diperiksa jaksa penyidik Surma SH.

Sebelum ditahan, sekitar pukul 12.30 WIB, keenam tersangka ini diberi kesempatan untuk salat zuhur dan makan siang bersama penasehat hukumnya. Pemeriksaan kembali dilanjutkan pukul 13.30 WIB. Tanda-tanda penahanan terhadap mereka sudah mulai terlihat pukul 15.00 WIB. Saat itu Asisten Intelijen Kejati Riau, Heru Chairuddin SH selaku Ketua Tim dalam perkara dugaan korupsi APBD Inhu ini melakukan rapat tertutup bersama Asisten Pidana Khusus (Pidsus) Yacop Hendrik di Gedung Pidsus. Rapat tertutup itu berlangsung hingga ke pukul 15.30 WIB. Sekitar pukul 16.00 WIB penahanan terhadap keenam tersangka ini semakin jelas, di mana beberapa petugas kejaksaan mulai terlihat sibuk mondar-mandir membawa beberapa helai kertas HVS warna merah ke ruang Kajati Riau.

Satu setengah jam kemudian, salah seorang petugas di kejaksaan tinggi Riau membawa bus warna hijau BM 9302 AP khusus pembawa tahanan dari samping Gedung Kejati Riau dan memarkirkannya tepat di depan pintu masuk gedung Pidsus Kejati Riau.

Tepat pukul 18.00 WIB, keenam tersangka yang didampingi oleh pengacara dan dikawal oleh beberapa petugas Kejaksaan Tinggi Riau itu digiring dari lantai II Pidsus ke dalam mobil tahanan. Selanjutnya para tersangka ini dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Pekanbaru untuk dilakukan penahanan.

Sunardi Ibrahim yang sudah menjalani beberapa kali pemeriksaan sebagai tersangka di Kejati Riau, pada saat akan memasuki mobil tahanan menyempatkan diri menyalami para penyidik di Kejati Riau. Hal yang sama juga dilakukan oleh Fuja Kaul Akmal. Kajati Riau, Soemarno SH melalui Asisten Intelijen Heru Chairudin SH didampingi Aspidsus Yacob Hendrik, kepada wartawan, mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang tersangka. “Hari ini (Senin,red) ada enam orang yang kami tahan, masing-masing adalah Muliadi (mantan Wakil Ketua DPRD Inhu), Alfian Jaharan (mantan anggota DPRD) Sunardi Ibrahim (mantan anggota DPRD) Puja Kaul Amal, Khaidirianto dan Raja Junaidi yang merupakan mantan Bendahara Sekretaris Dewan (Sekwan) Inhu,’’ ungkapnya.

Keenam tersangka, kata Heru, dilakukan penahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pekanbaru. “Sesuai dengan pemeriksaan awal, mereka kami tetapkan sebagai tersangka karena diduga telah melakukan penyalahgunaan terhadap dana APBD Inhu tahun 2005-2008 senilai Rp116 miliar,’’ katanya.

Penahanan terhadap keenam tersangka, jelas Heru, dilakukan atas permintaan penyidik. Salah satunya penyidik menghawatirkan para tersangka akan melarikan diri, mengulangi perbuatannya, dan menghilangkan barang bukti. “Atas dasar itulah kami melakukan penahanan terhadap ketiga tersangka ini,’’ ujarnya.

Sementara itu, Eva Nora SH selaku pengacara Sunardi Ibrahim dan Fuja Kaul Akmal merasa sangat kaget dengan penahanan yang dilakukan oleh Kejati Riau ini. Menurutnya, selama ini kliennya sudah berupaya untuk koperatif setiap kali ada pemanggilan dari Kejati Riau. “Saya sangat kaget dengan penahanan ini. Seharusnya ini tidak terjadi, karena kami selalu kooperatif. Setiap kali pemeriksaan kami selalu bisa menghadirkan klien kami. Saya pikir apa lagi yang membuat Kejaksaan harus merasa takut bahwa klien kami akan melarikan diri. Begitu juga dengan menghilangkan barang bukti. Sekarang ini semua bukti-buktinya sudah berada di tangan jaksa, jadi dari mana lagi klien kami bisa untuk menghilangkannya,’’ terang Eva Nora.

Sedangkan Wismar Arianto SH MH, pengacara Raja Junaidi, Khaidirianto dan Mulyadi, mengaku tidak kaget dengan penahanan yang dilakukan oleh Kejati Riau tersebut. Menurutnya penahanan tersebut adalah kewenang penyidik. “Penahanan itu adalah kewenangan penyidik, kita tidak akan mengajukan surat penangguhan penahan,’’ ungkapnya.

Tidak Datang karena Berobat ke Kalimantan

Alfian Jaharan yang ditemui Riau Pos saat jam makan siang mengatakan, selama ini dia tidak bermaksud untuk melarikan diri. Akan tetapi selama ini dia tidak bisa hadir, karena sedang berobat di Kalimantan. “Saya bukan tidak mau menghadiri panggilan Kejati Riau. Tetapi selama ini saya sakit dan berobat di Kalimantan,’’ ungkapnya tanpa mau menjelaskan sakit apa yang sedang dideritanya.

Sementara Raja Junaidi dan Khaidirianto kepada Riau Pos mengaku sama sekali tidak tahu tentang uang APBD tersebut. Menurutnya selama ini dia hanya diminta untuk menerima sejumlah uang. “Kami tidak tahu tentang uang itu, waktu itu kami hanya disuruh menerima saja, dan disuruh tanda tangan,’’ ujarnya.(muh)

Sumber: Riaupos, Selasa, 1 Juni 2010

Dibaca 927 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !




Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Berita yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 801
Hari ini :4.618
Kemarin :9.100
Minggu kemarin:96.230
Bulan kemarin:396.528

Anda pengunjung ke 19.100.665
Sejak 01 April 2009

Subscribe

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terbaru dari infokorupsi.com :

Delivered by FeedBurner

Atau klik feed tool berikut :

Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

Add to netvibes
Add to My AOL Subscribe in Rojo

Statistik pembaca via feed :

infokorupsi