infokorupsi
Berita Korupsi se-Indonesia
Beranda > DKI Jakarta > Kota Jakarta Utara > Jaksa Penggelap Barang Bukti Divonis Satu Tahun

Kamis, 3 Desember 2009

Jaksa Penggelap Barang Bukti Divonis Satu Tahun

Sidang kasus penjualan barang bukti ekstasi dengan terdakwa jaksa Esther Tanak (duduk paling kanan) dan Dara Feranita (kedua dari kanan), digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (23/7). Dua penegak hukum tersebut terbukti melanggar Pasal 71 Ayat (1) jo Pasal 62 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Sidang kasus penjualan barang bukti ekstasi dengan terdakwa jaksa Esther Tanak (duduk paling kanan) dan Dara Feranita (kedua dari kanan), digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (23/7). Dua penegak hukum tersebut terbukti melanggar Pasal 71 Ayat (1) jo Pasal 62 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Jakarta—Kasus penggelapan barang bukti berupa ekstasi yang dilakukan oknum jaksa Kejaksaan Negeri Jakarta Utara akhirnya diputuskan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu (2/12).

Jaksa Esther Tanak (39) yang dituntut hukuman 1,5 tahun penjara akhirnya diputus hukuman penjara satu tahun potong masa tahanan dan denda Rp 5 juta. Adapun Jaksa Dara Veranita (36) diputus bebas oleh majelis hakim yang dipimpin Eko Supriyono.

Putusan bebas itu disambut tangis oleh Dara yang duduk di kursi terdakwa bersama Esther, Irfan (41), dan Jenanto (31). Irfan sendiri diputus hukuman 1,5 tahun penjara dan Jenanto dihukum satu tahun penjara. Keduanya juga harus membayar denda masing-masing Rp 5 juta subsider tiga bulan penjara.

Keempat terdakwa ini didakwa telah menggelapkan barang bukti berupa 343 butir ekstasi dari kasus narkoba dan psikotropika yang ditangani Esther. Kasus terungkap ketika Jenanto tertangkap sedang menjual ekstasi kepada polisi sekitar bulan Maret 2009. Ternyata Jenanto adalah pegawai sipil di Polsek Pademangan, Jakarta Utara.

Jenanto mengaku mendapatkan ekstasi itu dari Irfan, seorang penyidik di Polsek Pademangan. Setelah ditelusuri, ekstasi itu ternyata berasal dari Esther. Irfan dan Esther sepakat menggelapkan barang bukti dengan syarat Irfan membelikan Esther telepon genggam baru, yakni BlackBerry Bold. Ekstasi yang diserahkan Esther kepada Irfan lalu ditukar Irfan dengan pil obat asma yang berwarna sama, yakni hijau muda. Obat itu dibeli di sebuah apotek di kawasan Mangga Dua.

Dara, yang kebetulan ruang kerjanya sama dengan Esther melihat Esther mendapatkan gadget versi terbaru. Dia pun minta dibelikan telepon Nokia N82 dan bersedia memberikan 100 butir ekstasi. Transaksi barter itu pun kemudian terlaksana.

Menurut Hakim Eko, ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada Esther, mengingat Esther adalah penegak hukum, karena Esther dianggap telah melakukan kelalaian. “Dia tentu tidak mau mengorbankan kariernya hanya demi sebuah handphone seharga Rp 7 juta. Dia hanya kurang menghayati pekerjaannya,” kata Eko.

Hal yang meringankan Esther adalah karena ia telah bekerja dengan baik selama belasan tahun. Dia cukup sopan di pengadilan dan memiliki keluarga. Hukuman satu tahun itu sudah cukup berat mengingat dia harus menanggung tertundanya karier dan mendapat catatan khusus. “Mengenai apakah dia tetap menjadi jaksa atau tidak, bukan kewenangan saya,” kata Eko.

Sementara Dara diputus bebas karena tidak ada satu saksi pun yang melihat atau memberatkan Dara. “Dia hanya terbawa situasi. Ketika melihat Esther mendapatkan handphone, dia jadi kepingin. Namun, sebenarnya dia tidak niat untuk menggelapkan barang bukti itu,” tutur Eko. Sidang sore kemarin sunyi karena Eko membacakan putusannya dengan suara sangat pelan. (ARN)

Sumber : Kompas, Kamis, 3 Desember 2009
Sumber Foto: suarapembaruan.com

Dibaca 1.387 kali

Bagikan informasi ini

Tulis komentar Anda !




Disclaimer Redaksi menerima komentar terkait Berita yang ditayangkan. Komentar adalah tanggapan pribadi dan menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak mengubah dan menghapus komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berbau pelecehan, intimidasi, berisi fitnah, atau bertendensi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

POLLING

Menurut Anda, apakah putusan PN Jakarta Selatan yang memenangkan gugatan praperadilan Anggodo Widjojo terhadap SKPP Kasus Bibit dan Chandra mencurigakan?
Ya
Tidak
Tidak Tahu

Statistik Pengunjung

Pengunjung Online : 1.192
Hari ini :9.346
Kemarin :9.426
Minggu kemarin:69.982
Bulan kemarin:353.178

Anda pengunjung ke 16.625.966
Sejak 01 April 2009

Subscribe

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terbaru dari infokorupsi.com :

Delivered by FeedBurner

Atau klik feed tool berikut :

Add to Google Reader or Homepage Subscribe in Bloglines

Add to netvibes
Add to My AOL Subscribe in Rojo

Statistik pembaca via feed :

infokorupsi